PEMANDIAN AIR PANAS GUCI

Wisata alam di kaki gunung slamet, Bumijawa Kab. Tegal

WADUK CACABAN

Wisata yang menawarkan pemandangan alam, perbukitan yang menjadi benteng air, Pangkah - Kab. Tegal

PANTAI ALAM INDAH

Wisata alam, pengunjung dimanjakan dengan panorama laut yang indah. Kota Tegal

RANDUSANGA INDAH

Wisata Pantai dengan dilengkapi kuliner, Randusanga - Kab. Brebes

PANTAI WIDURI

Wisata Pantai dengan suasana teduh karena banyaknya pohon cemara yang rindang, Kab. Pemalang

Showing posts with label Budaya Pemalang. Show all posts
Showing posts with label Budaya Pemalang. Show all posts

Sunday, May 15, 2016

ASAL USUL PANTAI WIDURI KABUPATEN PEMALANG

Sumber Gambar google.com
 
Pada abad ke 15, pesisir utara Jawa Tengah masih banyak terdapat hutan dan rawa-rawa.  Warga yang tinggal pinggiran daerah itu pun masih sedikit.  Di pesisir yang sekarang menjadi Kabupaten Pemalang itu hiduplah sepasang suami istri, yaitu Kaki dan Nyai Pedaringan.
    Walaupun pasangan ini berbeda jauh usianya, namun tidak menghalangi mereka berdua menjalin kasih.  Nyai Pedaringan masih sangat muda, sedangkan Ki Pedaringan usianya sudah lebih dari setengah abad.
Pekerjaan Ki Pedaringan adalah bertani, menanam palawija dan semangka. Suatu hari, Nyi pedaringan menyiapkan sarapan di gubuknya, sedangkan Ki Pedaringan bekerja di sawahnya yang jaraknya sangat jauh.  Tiba-tiba di gubuknya datang seorang pemuda tampan.  Ia meminta agar dijinkan masuk ke dalam gubuk.  Pemuda itu dalam keadaan berdarah di lengannya.  Nyi Pedaringan kaget melihat darah di lengan pemuda tadi.  Seperti ada pusaka kerajaan yang menancap. Dalam hati ia bertanya, “Siapakah orang ini?”
Tak lama kemudian pemuda tadi mengenalkan dirinya.  Ternyata dia adalah Pangeran Purbaya.  Punggawa Kerajaaan Mataram yang sedang mengemban tugas menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Salingsingan di Cirebon. Salingsingan ingin menguasai Tanah Jawa dari Mataram.
Akhirnya Salingsingan dapat dikalahkan dan Pangeran Purbaya selamat. Dalam perjalanan menuju Mataram, pangeran melihat gubuk dan hendak menghampiri untuk mengobati lukanya.  Nyai Pedaringan mencoba mengobati. Tak lama, Pangeran Purbaya berpamitan dan meningalkan sebuah keris sebagai tanda terima kasih.  Sang Pangeran berpesan bahwa keris yang bernama Simonglang itu agar dijaga dan dirawat.  Diharapkan keris itu dapat menjadi pusaka daerah itu dan yang berhak memiliki adalah anak turun keluarga Pedaringan.
Siapa pun tidak berhak nengambil keris itu kecuali Pangeran Purbaya, atau orang yang jarinya pangkas seperti jari Pangeran Purbaya.  Pangeran Purbaya meneruskan perjalanan ke selatan.  Di tengah perjalanan, ia harus melewati sungai kecil yang melintang (bahasa Jawa: malang) dari arah timur dan mengalir menuju barat yang lokasinya dekat dengan laut. Dia seperti mendapat ilham dari yang Mahakuasa untuk menamai daerah tersebut Pemalang.
Sore hari, Ki Pedaringan baru sampai di gubuknya.  Ki Pedaringan kesal dan heran karena biasanya Nyai Pedaringan membawakan makanan tetapi sampai sore Nyai Pedaringan tidak datang.  Kesal menjadi curiga karena melihat Nyi Pedaringan membawa sebuah keris yang biasanya dimiliki oleh seorang lelaki. Nyi Pedaringan menjelaskan dari mana ia mendapatkan keris itu.  Tapi, Ki Pedaringan tidak mau menerimanya.  Keduanya bertengkar.
Akhirnya Nyi Pedaringan mencabut keris untuk membuktikan rasa cintanya.  Ia memotong jarinya. Darah segar mengalir dari jari-jarinya yang lentik. Nyai Pedaringan bersumpah.  Jika darah yang ia teteskan di bunga widuri yang putih berubah menjadi ungu pertanda bahwa cintanya masih suci.  Bunga widuri itupun berrubah warna menjadi ungu.
Melihat kejadian tadi Ki Pedaringan menyesal dan meminta maaf kepada Nyi Pedaringan. Untuk menebus kesalahannya, Ki Pedaringan menyusul Pangeran Purbaya.  Tapi sampai saat itu Ki Pedaringan tidak pernah kembali.  Nyai Pedaringan yang di juluki Nyai Widuri hidup sendiri dengan bayi yang masih ada dalam kandunganya.  Sampai akhir hayatnya Nyi Pedaringan menjadi janda. Sekarang nama Widuri diabadikan menjadi  nama desa tempat Nyai Widuri pernah tinggal.
sumber : http://sinaubudayajawa.blogspot.co.id
Share:

TARI SILAKUPANG KABUPATEN PEMALANG

Tari Silakupang merupakan kebudayaan Kab. Pemalang berawal dari Legenda "Nyi Widuri", tari tersebut menceritakan  seorang gadis  cantik yang merupakan putri seoarang penguasa Laut Utara Jawa Tengah. Putri itu yang disebut dengan Nyi Widuri yang kemudian jatuh cinta dan memadu kasih dengan seorang jejaka anak punggawa penguasa Kadipaten Pemalang. Walaupun mereka berbeda alam namun mereka tetap menjalin tali asmara dan sangat romantis hingga usia mereka tua. Kisa tersebut di tuangka dalam seni tari yang akhirnya menjadi budaya Kabupaten Pemalang hingga saat ini.

Share:

Wednesday, February 3, 2016

BARITAN

Baritan adalah salah satu tradisi yang sudah turun-temurun dilaksanakan warga nelayan di pantai utara Pemalang sebagai rasya syukur kepada Yang Maha Kuasa. Tradisi yang dilaksanakan setiap selasa atau jumat di awal bulan Sura (Kalender Jawa) ini merupakan prosesi melarung sesaji ke tengah laut. Pelaksanaan Baritan ini dilaksanakan di Desa Asem Doyong, Kecamatan Taman.
Ada tiga sesaji laut atau ambeng laut berupa kepala kerbau dan jajanan lokal yang ditempatkan pada  perahu kecil yang dilarungkan ke tengah laut menggunakan perahu yang sudah dihias dengan bendera dan umbul-umbul janur kuning.
Sebelum upacara pelarungan, diadakan tirakatan bersama yang dihadiri para nelayan, tokoh masyarakat setempat dan para pejabat terkait dengan mengambil lokasi di Tempat Pelelangan Ikan. Pembacaan doa dan tahlil menyertai upacara ini dengan maksud agar pelaksanaan upacara ini dapat berjalan lancar, selamat dan tidak menyimpang dari aturan agama.
Sebelum di bawa ke laut, panitia Baritan mengundi sesaji untuk menentukan perahu dan juru mudi yang berhak membawa sesaji ke laut. Caranya dengan mengambil nomor urut yang ada di dalam toples kecil dan ditutup kertas yang diberi lubang kecil untuk mengeluarkan lintingan kertas nomor urut tersebut. Mirip seperti arisan. Usai pengundian Juru Mudi dan ABK diharuskan memakai kaos yang sudah disediakan panitia. Selanjutnya membawa sesaji ke laut.
Setiap diadakan upacara atau tradisi Baritan ini, selalu ramai dikunjungi oleh warga sekitar Desa Asem Doyong dan para pengunjung dari desa lain. Warga yang datang biasanya diberi kesempatan oleh para nelayan setempat untuk menaiki perahu yang sudah dihias sedemikian rupa. Tidak Cuma naik, bahkan pengunjung yang datang juga di antar berkeliling menggunakan perahu-perahu tersebut. Tenang saja, untuk dapa merasakan naik perahu tersebut tidak dipungut biaya kok. Seru deh pokoknya. So, jangan sampe kelewatan yah.
Sumber : http://www.kabarpemalang.com/2013/11/wisata-pemalang-tradisi-sedekah-laut.html
Share:

Rumah Dijual
Powered by Blogger.

ARSIP