PEMANDIAN AIR PANAS GUCI

Wisata alam di kaki gunung slamet, Bumijawa Kab. Tegal

WADUK CACABAN

Wisata yang menawarkan pemandangan alam, perbukitan yang menjadi benteng air, Pangkah - Kab. Tegal

PANTAI ALAM INDAH

Wisata alam, pengunjung dimanjakan dengan panorama laut yang indah. Kota Tegal

RANDUSANGA INDAH

Wisata Pantai dengan dilengkapi kuliner, Randusanga - Kab. Brebes

PANTAI WIDURI

Wisata Pantai dengan suasana teduh karena banyaknya pohon cemara yang rindang, Kab. Pemalang

Tuesday, November 8, 2016

MAKAM KI GEDE SEBAYAU - DANAWARIH TEGAL

TEGAL - Makam Ki Gede Sebayu selalu ramai didatangi peziarah ketika menjelang hari jadi Kabupaten dan Kota Tegal seperti Bupati dan Wakil Bupati, Walikota dan Wakilnya, Kepala Dinas, SKPD, sesepuh, dan warga Tegal.
Ki Gede Sebayu merupakan salah satu orang yang sangat berjasa dalam membangun Tegal. Tidak hanya membangun Tegal, namun juga berhasil membangun masyarakat Tegal sehingga mempunyai banyak keterampilan.
Atas keberhasilannya ini pula,  Ingkang Sinuwun Kanjeng Panembahan Senopati Mataram mengangkat Ki Gede Sebayu sebagai juru Demang setingkat Tumenggung/ Bupati yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tegal. Ki Gede Sebayu masih berkaitan erat dengan keturunan Majapahit. Beliau memiliki dua orang anak, yakni Pangeran Hanggawana dan Raden Ayu Rara Giyanti Subalaksana yang menikah dengan Pangeran Purbaya.
Selain itu, Ki Gede Sebayu juga berjasa dalam pembangunan Bendungan Danawarih yang fungsinya adalah unuk irigasi areal persawahan.
Makam Ki Gede Sebayu terletak di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Sekitar 100 meter ke utara dari lokasi Bendungan dan Jembatan Gantung Danawarih. Komplek makam ini memiliki area yang cukup luas. Sedangkan makamnya sendiri berada di tengah-tengah komplek bangunan tersebut. Makamnya dibuat dengan model atap joglo dan dikelilingi tembok kaca dengan ditutupi tirai putih. 
Bagi anda yang senang dengan wisata religi dan sejarah tempat ini merupakan tempat yang tepat bagi anda, karena dengan mengunjungi tempat tersebut kita bisa tahu salah satu orang yang berjasa di Tegal, disamping itu di tempat tersebut terdapat jembatan gantung dan bendungan yang panorama alamnya masih asli. 
Share:

Monday, September 19, 2016

WISATA SUSUR SUNGAI DESA PENGGARIT

PEMALANG – Destinasi wisata susur sungai antara Desa Penggarit dan Desa Pegongsoran jika bisa dikemas lebih bagus lagi, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi salah satu, dari sekian banyak destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pemalang. Sehingga mampu bersaing dengan destinasi wisata yang ada di daerah lain.
Demikian disampaikan Bupati Pemalang, H. Junaedi, SH. MM., Minggu (18/9/2016) usai menyusuri sungai di Desa Penggarit Kecamatan Taman.
"Disamping memberikan dorongan semangat dan mengeksistensi, Pemerintah Kabupaten Pemalang juga memberikan penguatan dibidang anggaran. tinggal bagaimana desa-desa dan masyarakatnya, termasuk Pokdarwis-Pokdarwis yang ada dan BUMDes-nya, Pemkab akan bangkitkan untuk beradu kreatifitas ".Diungkapkan Bupati Pemalang H.Junaedi, SH, MM.
"Saat ini bisa dilihat bahwa BUMDes di desa Penggarit emberionya sudah sangat luar biasa. Bupati mengemukakan, destinasi susur sungai di Penggarit sangat menarik untuk dikunjungi para wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara ".pungkas Bupati Munggu (18/09/2016). sumber www.mediarakyat99.com
Share:

Sunday, June 19, 2016

CANDI CETHO KABUPATEN KARANGANYAR

Salah satu peninggalan sejarah di Jawa tengah Yaitu Candi Cetho yang terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Komplek candi sering dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar atau penduduk setempat sebagai tempat ziarah maupun tempat pemujaan. Cadi Ceto dibuat pertama kali oleh Van de Vlies pada tahun 1842. Menurut sejarah, Candi Cetho merupakan candi peninggalan Kerajaan majapahit. Di kompleks ini juga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi yang merupakan leluhur Dusun Cetho. 
Candi ini memiliki keunikan tersediri yaitu yaitu terdapat patung berupa kalacakra atau alat kelamin laki-laki. Selain itu candi Cetho ini dibangun pada lahan yang berundak. Ada sebelas teras yang masing-masing teras memiliki keunikan bangunan tersendiri. 
Disamping keunikan - keunikan yang terdapat di candi ini wisatawan juga dapat menikmati suasana alam yang indah. selain itu tempat ini bisa di rekomendasikan untuk tempat wisata pendidikan, selain kita dapat menikmati suasana alam dan keindahan candi kita juga dapat mempelajari peninggalan sejarah dari candi ini.
Untuk menuju tempat wisata tersebut membutuhkan waktu 2,5 jam dari kota Karanganyar, dan kita dapat mengikuti petunjuk arah. dalam perjalanan menuju OW tersebut kita bisa menikmati pemandangan lereng Gunung Lawu dan pemandangan kebuh teh.
Bagi anda yang suka akan wisata sejarah silakan datang ke tempat wisata yang satu ini dan selain Candi Cetho terdapat pula Candi Sukuh yang letaknya tidak jauh dari Candi Cetho.
Share:

Monday, June 6, 2016

CIBLON WATERBOOM KABUPATEN BREBES

Sumber gambar: lampionku.com
Mendengar namanya mebuat kita geli, namu jangan salah persepsi tempat wisata yang satu ini merupakan wahana wisata air cocok untuk keluarga yang senag bermain ari bersama keluarga, disamping wisata air bisa juga untuk kebugaran tubuh kita karena di tempat ini terdapat fasilitas olah raga seperti tempat fitnes dan senam aerobik.
Tempat wisata yang terletak di Jl. Yos Sudarso Kota Brebes ramai di kunjungi para wisatawan pada saat liburan. Tempat ini cukup terkenal karena namanya yang mudah di ingat dan unik, disamping menawarkan wahan pemainan air yang memanjakan wisatawan dan fasilitas-fasilitas yang dimiliki.
Di Ciblon waterboom dibangun diatas tanah + 1,5 hektar ini memiliki fasilitas kolam yang berkedalaman bervariasi, Slider dengan ketinggian sekitar 12m, lintasan kolam, permainan ember tumpah, sauna, tempat fitnes, tempat senam aerobik, kamar mandi, ruang ganti, cafe, dan area parkir yang luas.

Share:

Thursday, May 26, 2016

GUNUNG SRANDIL CILACAP JAWA TENGAH

Foto (http://pariwisata.cilacapkab.go.id)
Mendengar nama Gunung srandil untuk sebagian besar masyarakat Jawa Tengah tentu kenal dengan nama Gunung ini. Tapi nanti dulu, gunung srandil memiliki histori yang perlu kita pelajari. disamping kita bisa berwisata kita pun dapat mengetahui sejarah dulunya gunung srandil itu sebagai tempat apa.
Gunung srandil merupakan salah satu bukit yang ada di Glempang pasir Kecamatan Adipala jarak antara obyek wisata dengan Kota Cilacap 30 Km kearah timur laut, dan untuk akses kelokasi gunung srandil sangatlah mudah, bagi para wisatawan bisa datang berkunjung dengan menggunakan Bus rombongan ataupun mobil pribadi karena jalan yang menuju ke lokasi wisata sudah beraspal dan dekat dengan jalan lintas selatan Cilacap.
Gunung Srandil setiap hari dikunjungi orang untuk berziarah oleh karena tempat tersebut tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar saja tetapi sampai keluar Jawa seperti Sumatra, Kalimantan, Bali. dan Sulawesi, maka yang berkunjung tujuannya bermacam-macam. Para peziarah biasanya berkunjung atau bertapa pada Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada Bulan Syura.
Konon menurut cerita penghuni pertama Gunung Srandil adalah Sultan Mukhriti putra kedua dari Dewi Sari Banon Ratu Sumenep Jawa Timur. Kedatangan Sultan itu untuk bertapa namun Sultan Mukhriti murca (menghilang) yang ada tinggal petilasannya yang terletak di sebelah timur yang di kenal dengan Embah Gusti Agung Sultan Mukhriti.
Selain itu juga ada legenda rakyat yang pertama bermukim di gunung Srandil adalah dua orang bernama Kunci Sari dan Dana Sari, mereka adalah prajurit Pangeran Diponegoro yang tidak mau menyerah kepada bala tentara Belanda. Mereka melarikan diri ke Gunung Srandil untuk bersembunyi dan meninggal di sini . Makam kedua prajurit tersebut berada di sebelah timur Gunung Srandil dalam satu komplek yang dipagar keliling yang kemudian hari, Kunci Sari dikenal dengan nama Sukma Sejati.
Adapun petilasan-petilasan yang ada di Gunung Srandil adalah Mbah Kanjeng Gusti Agung, Nyai Dewi Tanjung Sekarsari, Kaki semar Tunggul Sabdojati Dayo amongrogo, Juragan Dampo Awang, Kanjeng Gusti Agung Akhmat atau Petilasan Langlang Buwana yang berada diatas bukit dan petilasan Hyang Sukma Sejati. sumber (http://pariwisata.cilacapkab.go.id)
Share:

Tuesday, May 24, 2016

TARI TOPENG SINOK KABUPATEN BREBES

CANTIK, luwes dan trengginas tergambar dalam tarian Topeng Sinok. Tarian khas Brebes, ciptaan Suparyanto ini, merupakan salah satu karya yang dipersembahkan Dewan Kesenian Kabupaten Brebes untuk masyarakat kota tersebut. Dipicu lantaran hingga kini, daerah tersebut belum mempunyai tarian khas seperti halnya yang dimiliki daerah lain seperti Tari Topeng Endel milik Kabupaten Tegal.
Tarian Topeng Sinok, menceritakan tentang perempuan Brebes, yang pada umumnya mereka merupakan adalah wanita pekerja keras. kecantikan, keluwesan, dan keanggunannya tak mengurangi kecintaan mereka pada alam dan pekerjaannya sebagai petani. Tari yang merupakan paduan bentuk seni Cirebon, Banyumas dan Surakarta tersebut, seolah hendak mengatakan bahwa perempuan daerah perbatasan Jateng-Jabar ini bukanlah pribadi yang manja, cengeng, dan malas.
Promosi Tari Topeng ini pun dilakukan oleh Dewan Kesenian Kabupaten Brebes sejak tahun 2011 hingga sekarang. Ajang Pagelaran Jateng atau promosi wisata Kabupaten Brebes di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan salah satu media untuk memperkenalkan tarian ini. Pementasan perdana Tari Topeng Sinok ini dilaksanakan pada saat Kirab Budaya hari jadi Kabupaten Brebes ke 333 dengan melibatkan 100 orang penari yang bertempat di lapangan Karang Birahi Brebes.
Bukan hanya diperenalkan di luar daerah saja namun tarian ini dikenalkan di sekolah-sekolah sekabupaten brebes, dengan cara sosialisi dan pelatihan-pelatihan kepada seluruh guru tari di Kabupaten Tegal dan dimasukan dalam pelajaran muatan lokal sekolah. Tari topeng sinok ini yang diproyesikan akan menjadi tarian khas yang nantinya menjadi warisan budaya turun temurun bagi masyarakat Kabupaten Brebes.
Share:

Monday, May 16, 2016

TARI TOPENG ENDEL KABUPATEN TEGAL

Tari topeng endel merupakan salah satu tarian khas Tegal, topeng gaya tegal yang digunakan dalam tarian ini mempunyai banyak ragam bentuk diantaranya Topeng Endel, Kresna, Panji, Patihan, Lanyapan, Alus dan Kelana.
Dari informasi yang dikutip dan dirilis Dewan Kesenian Tegal (DKT), wayang topeng Tegal berada di puncak kejayaan pada tahun 1960-an. Sayangnya, kejayaan wayang topeng Tegal mulai tergusur oleh budaya modern pada tahun 1980-an. Tari topeng Tegalan bisa dipentaskan siang maupun malam hari sesuai permintaan. Pentas topeng biasanya sekitar 3-4 jam dengan diiringi 10 panjak atau pangrawit, seorang sinden, dan seorang dalang.
Topeng  Endel Adalah bentuk topeng wanita dengan kostum endel yang mirip penari Gambyong. Tariannya diiringi gending lancaran ombak banyu laras slendro manyuro. Topeng Kresna bermuka merah jambu dan berambut. Gending pengiringnya adalah lancaran lelenderan naik lancaran praliman. Topeng Panji bermuka menunduk (luruh). Mukanya berwarna putih, berambut mirip tokoh Arjuna. Gending pengiringnya adalah lancaran gunung sari laras slendro patet nem.
Untuk topeng Patihan sendiri memiliki mata khas yang terbuka lebar sebagai wakil dari tokoh Setiati dan Patihan Jawa, berwarna merah tua. Lancaran blendrang laras slendro patet manyuro merupakan gending yang biasa mengiringi topeng patihan. Sementara topeng Lanyapan dan Alus memiliki bentuk wajah yang menunduk (temungkul) dan berkumis. Warna wajah topeng lanyapan alus ini sendiri berwarna kuning gading dan mirip dengan tokoh Bambangan dalam warna kulit purwa. Gending pengiring tari topeng ini adalah lancaran lagon semarangan laras slendro patet nem.
Yang terakhir adalah topeng kelana. Topeng kelana memiliki mata yang terbuka lebar, hidung menengadah ke atas dan panjang. Mulut dan gigi topeng kelana terbuka, bertaring pendek dengan warna wajah merah tua, mirip dengan toko Dasamuka. Sebagai pengiringnya adalah lancaran gonjing truntung laras slendro patet manyuro.

Selain enam topeng diatas, terdapa pula bentuk topeng tambahan yakni Punakawan dan topeng Kelana Yaksa serta beberapa tokoh lain yang biasanya disesuikan dengan kebutuhan cerita tari.

Tegal sendiri memiliki maestro Ter topeng endel yaitu Ibu Suwitri, seorang ibu yang lahir di tahun 1948, beliau senantiasa menjaga dan merawat Tari topeng endel dari semasa ia muda hingga sekarang. Ibu Suwitri dinobatkan sebagai maestro tari topeng endel pada tahun 2010 oleh Bupati Tegal.
Share:

Sunday, May 15, 2016

ASAL USUL PANTAI WIDURI KABUPATEN PEMALANG

Sumber Gambar google.com
 
Pada abad ke 15, pesisir utara Jawa Tengah masih banyak terdapat hutan dan rawa-rawa.  Warga yang tinggal pinggiran daerah itu pun masih sedikit.  Di pesisir yang sekarang menjadi Kabupaten Pemalang itu hiduplah sepasang suami istri, yaitu Kaki dan Nyai Pedaringan.
    Walaupun pasangan ini berbeda jauh usianya, namun tidak menghalangi mereka berdua menjalin kasih.  Nyai Pedaringan masih sangat muda, sedangkan Ki Pedaringan usianya sudah lebih dari setengah abad.
Pekerjaan Ki Pedaringan adalah bertani, menanam palawija dan semangka. Suatu hari, Nyi pedaringan menyiapkan sarapan di gubuknya, sedangkan Ki Pedaringan bekerja di sawahnya yang jaraknya sangat jauh.  Tiba-tiba di gubuknya datang seorang pemuda tampan.  Ia meminta agar dijinkan masuk ke dalam gubuk.  Pemuda itu dalam keadaan berdarah di lengannya.  Nyi Pedaringan kaget melihat darah di lengan pemuda tadi.  Seperti ada pusaka kerajaan yang menancap. Dalam hati ia bertanya, “Siapakah orang ini?”
Tak lama kemudian pemuda tadi mengenalkan dirinya.  Ternyata dia adalah Pangeran Purbaya.  Punggawa Kerajaaan Mataram yang sedang mengemban tugas menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Salingsingan di Cirebon. Salingsingan ingin menguasai Tanah Jawa dari Mataram.
Akhirnya Salingsingan dapat dikalahkan dan Pangeran Purbaya selamat. Dalam perjalanan menuju Mataram, pangeran melihat gubuk dan hendak menghampiri untuk mengobati lukanya.  Nyai Pedaringan mencoba mengobati. Tak lama, Pangeran Purbaya berpamitan dan meningalkan sebuah keris sebagai tanda terima kasih.  Sang Pangeran berpesan bahwa keris yang bernama Simonglang itu agar dijaga dan dirawat.  Diharapkan keris itu dapat menjadi pusaka daerah itu dan yang berhak memiliki adalah anak turun keluarga Pedaringan.
Siapa pun tidak berhak nengambil keris itu kecuali Pangeran Purbaya, atau orang yang jarinya pangkas seperti jari Pangeran Purbaya.  Pangeran Purbaya meneruskan perjalanan ke selatan.  Di tengah perjalanan, ia harus melewati sungai kecil yang melintang (bahasa Jawa: malang) dari arah timur dan mengalir menuju barat yang lokasinya dekat dengan laut. Dia seperti mendapat ilham dari yang Mahakuasa untuk menamai daerah tersebut Pemalang.
Sore hari, Ki Pedaringan baru sampai di gubuknya.  Ki Pedaringan kesal dan heran karena biasanya Nyai Pedaringan membawakan makanan tetapi sampai sore Nyai Pedaringan tidak datang.  Kesal menjadi curiga karena melihat Nyi Pedaringan membawa sebuah keris yang biasanya dimiliki oleh seorang lelaki. Nyi Pedaringan menjelaskan dari mana ia mendapatkan keris itu.  Tapi, Ki Pedaringan tidak mau menerimanya.  Keduanya bertengkar.
Akhirnya Nyi Pedaringan mencabut keris untuk membuktikan rasa cintanya.  Ia memotong jarinya. Darah segar mengalir dari jari-jarinya yang lentik. Nyai Pedaringan bersumpah.  Jika darah yang ia teteskan di bunga widuri yang putih berubah menjadi ungu pertanda bahwa cintanya masih suci.  Bunga widuri itupun berrubah warna menjadi ungu.
Melihat kejadian tadi Ki Pedaringan menyesal dan meminta maaf kepada Nyi Pedaringan. Untuk menebus kesalahannya, Ki Pedaringan menyusul Pangeran Purbaya.  Tapi sampai saat itu Ki Pedaringan tidak pernah kembali.  Nyai Pedaringan yang di juluki Nyai Widuri hidup sendiri dengan bayi yang masih ada dalam kandunganya.  Sampai akhir hayatnya Nyi Pedaringan menjadi janda. Sekarang nama Widuri diabadikan menjadi  nama desa tempat Nyai Widuri pernah tinggal.
sumber : http://sinaubudayajawa.blogspot.co.id
Share:

TARI SILAKUPANG KABUPATEN PEMALANG

Tari Silakupang merupakan kebudayaan Kab. Pemalang berawal dari Legenda "Nyi Widuri", tari tersebut menceritakan  seorang gadis  cantik yang merupakan putri seoarang penguasa Laut Utara Jawa Tengah. Putri itu yang disebut dengan Nyi Widuri yang kemudian jatuh cinta dan memadu kasih dengan seorang jejaka anak punggawa penguasa Kadipaten Pemalang. Walaupun mereka berbeda alam namun mereka tetap menjalin tali asmara dan sangat romantis hingga usia mereka tua. Kisa tersebut di tuangka dalam seni tari yang akhirnya menjadi budaya Kabupaten Pemalang hingga saat ini.

Share:

Tuesday, May 10, 2016

GOA LAWA PURBALINGGA KABUPATEN PURBALIANGGA

Obyek Wisata Goa Lawa merupakan kawasan obyek wisata yang menjadi salah satu produk unggulan pariwisata Purbalingga. Goa Lawa yang mempunyai panjang 1,5 KM dengan luas 5 KM merupakan goa yang terbentuk dari endapan batu gamping dan aliran lava yang membeku di bawah permukaan tanah.
Goa Lawa merupakan goa kars karena terbntuk dari endapan batu gamping dan aliran lava yang membeku. Selain meruakan goa kars, goa ini juga masih sangat alami terbukti dengan masih banyak terdapat kelelawar dan anak-anak goa yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. di dalam goa tersebut tedapat anak goa yang mempunyai daya tarik tersendiri. Bagi wisatawan lokal maupul luar daerah ini merupakan tujuan wisata alam yang dapat memberikan kita keindahan alam bawah tanah yang terbentuk oleh aliran lava yang membeku dan bisa mengetahui jenis kelelawar (lawa) yang terdapat didalam goa tersebut yang berjumlah ratusan lebih kelelawar.
Share:

Rumah Dijual
Powered by Blogger.

ARSIP